Operasi amphibious raid yang digelar gabungan Denjaka TNI AL dan Kopassus TNI AD merupakan sebuah protokol serangan pantai terintegrasi yang dirancang sebagai serangkaian langkah sistematis. Prosedur ini berpedoman pada tiga prinsip taktis utama: penyusupan (stealth), kecepatan (speed), dan penerapan kekuatan secara terfokus (violence of action). Tujuannya adalah pencapaian sasaran dengan presisi tinggi di wilayah musuh yang dipertahankan, diikuti dengan penarikan diri segera sebelum lawan mampu memberikan respons efektif.
Fase 1: Infiltrasi Siluman ke Garis Pantai
Kunci sukses operasi ini terletak pada fase awal yang kritis, yaitu infiltrasi. Satuan gabungan memiliki dua metode utama untuk mendekati pantai musuh tanpa terdeteksi. Pemilihan metode didasarkan pada analisis situasi taktis dan intelijen untuk menghindari radar, sensor akustik, dan pengamatan visual.
- Infiltrasi Bawah Air: Unsur penyelam tempur (combat swimmers) dari Denjaka menggunakan alat selam sirkuit tertutup (Closed-Circuit Diving Apparatus/CCDA). Teknik ini dipilih karena CCDA tidak menghasilkan gelembung udara, sehingga jejak akustik dan visual di permukaan air dapat diminimalkan secara signifikan. Tim ini bergerak dari kapal induk untuk melakukan pengintaian pantai (beach reconnaissance) dan penandaan (marking) zona pendaratan yang aman.
- Infiltrasi Permukaan: Unsur lain, termasuk pasukan Kopassus, melakukan pendekatan menggunakan Rigid Hull Inflatable Boat (RHIB), sebuah jenis kapal cepat yang tangguh. Pemilihan RHIB didasarkan pada kecepatan tinggi dan kemampuan manuvernya yang baik, sangat krusial ketika faktor waktu menjadi penentu atau kondisi perairan mendukung pendekatan permukaan.
Fase 2: Pendaratan Darurat dan Pengamanan Landing Zone
Setelah fase infiltrasi terselubung berhasil, operasi memasuki tahap pendaratan dan pengamanan area. Tim yang datang menggunakan RHIB akan melaksanakan beach landing dengan teknik 'hot landing', yaitu langsung melompat ke darat dan segera membentuk posisi tembakan pengaman (covering fire position) untuk melindungi anggota tim lainnya yang mendarat. Sementara itu, tim penyelam yang sudah berada di posisi memberikan sinyal dan panduan aman untuk pendaratan tim utama.
Begitu Landing Zone (LZ) berhasil diamankan, sebuah perimeter defensif sementara segera dibentuk. Hal ini memungkinkan tim untuk berkumpul di rally point, melakukan pemeriksaan cepat atas perlengkapan dan amunisi, serta menyusun formasi untuk bergerak maju menuju sasaran utama. Kecepatan dalam fase ini penting untuk mempertahankan momentum serangan.
Fase 3: Eksekusi Sasaran dan Penarikan Strategis
Fase inti dari operasi amphibious raid ini adalah Actions on the Objective. Dari LZ yang telah diamankan, tim gabungan Denjaka dan Kopassus bergerak menuju sasaran—bisa berupa instalasi radar, pusat komando pantai, atau bangunan vital musuh—dengan menggunakan formasi patroli tempur. Serangan dilancarkan dengan presisi, kekuatan terpusat, dan durasi singkat untuk meminimalkan keterlibatan dalam pertempuran berkepanjangan. Segera setelah sasaran dinetralkan atau intelijen dicapai, tim akan melakukan penarikan (exfiltration) dengan protokol yang sama ketatnya, seringkali menggunakan rute atau sarana evakuasi yang telah disiapkan sebelumnya.
Latihan ini menegaskan bahwa suksesnya sebuah operasi amphibious raid tidak hanya bergantung pada keberanian personel, tetapi pada eksekusi detail teknis setiap fase: dari pemilihan metode infiltrasi yang tepat, kecepatan pendaratan dan pengamanan LZ menggunakan kapal cepat RHIB, hingga presisi serangan dan disiplin dalam penarikan. Kolaborasi mulus antara satuan laut (Denjaka) dan darat (Kopassus) dalam mensimulasikan seluruh rantai komando dan prosedur standar ini merupakan nilai taktis tertinggi dari latihan gabungan semacam itu.