Kodam Pattimura menggelar latihan prosedur militer yang menyimulasikan evakuasi medis (MEDEVAC) dalam operasi hutan lebat. Proses ini tidak hanya menguji kemampuan evakuasi, tetapi juga integrasi antara tim medis lapangan, personel SAR, dan penerbangan helikopter Bell 412. Seluruh prosedur dirancang untuk menekan waktu evakuasi dari titik aman hingga helikopter lepas landas di bawah 15 menit, sebuah standar yang krusial dalam medan hutan yang sulit diakses.
Tahapan Stabilisasi di Titik Aman Sementara
Setelah korban ditemukan, langkah pertama adalah stabilisasi di titik aman sementara. Tim medis melakukan pemasangan tourniquet untuk menghentikan perdarahan, pembidaian sementara pada bagian tubuh yang mengalami fraktur, serta pemberian oksigen portabel. Prosedur ini bertujuan menjaga kondisi korban tetap stabil sebelum dievakuasi lebih lanjut. Berikut rincian tindakan yang dilakukan:
- Pemasangan tourniquet pada ekstremitas yang cedera untuk mengontrol perdarahan masif.
- Pembidaian sementara menggunakan bidai lipat atau bahan improvisasi untuk imobilisasi.
- Pemberian oksigen portabel melalui masker non-rebreather untuk mempertahankan saturasi oksigen.
Setelah stabil, tim SAR diterjunkan dari helikopter Bell 412 menggunakan fast rope setinggi 20 meter. Teknik ini memungkinkan pendaratan tepat di lokasi yang tidak memungkinkan helikopter mendarat, seperti lahan sempit di tengah hutan. Tiga personel turun dengan cepat, mengamankan area, dan menyiapkan litter basket. Korban kemudian dimasukkan ke dalam litter basket dan ditarik menggunakan winch ke dalam helikopter. Seluruh gerakan dikoordinasikan melalui isyarat tangan dan radio untuk menghindari kesalahan komunikasi.
Triase di Zona Hijau dan Uji Coba Logistik Basah
Setelah korban berhasil diekstraksi ke helikopter, tim medis lapangan melakukan triase di zona hijau untuk menentukan prioritas evakuasi. Zona hijau dipilih karena relatif aman dan memungkinkan penilaian medis secara terstruktur. Latihan ini diulang dengan variasi cuaca hujan ringan untuk menguji logistik basah—ketahanan peralatan terhadap air serta kemampuan personel bekerja dalam kondisi licin. Target waktu evakuasi 15 menit dinilai sangat ketat, namun menjadi standar yang harus dicapai dalam prosedur militer untuk meningkatkan survival rate korban. Latihan ini juga menekankan pentingnya koordinasi antarunsur, termasuk komunikasi radio dan isyarat visual di tengah keterbatasan pandangan.
Analisis taktis dari latihan ini menunjukkan bahwa evakuasi medis di hutan bukan sekadar operasi penyelamatan, melainkan rantai prosedur yang melibatkan stabilisasi medis, ekstraksi vertikal, dan triase lapangan. Kemampuan beradaptasi dengan kondisi cuaca buruk menjadi poin penting dalam kesiapan operasi nyata. Bagi penggemar militer, latihan Kodam Pattimura ini memberikan gambaran nyata tentang bagaimana prosedur militer diterapkan dalam skenario operasi hutan yang menuntut kecepatan, ketepatan, dan kerja sama tim.