Pada 24 Oktober 2026, Komunitas Veteran Pejuang TNI (Veteran Peduli Bangsa) menggelar diskusi taktik pertempuran hutan tropis di Aula Museum Satriamandala, Jakarta. Dipandu oleh Letkol (Purn) Sugiarto—veteran operasi Timor Timur—sesi ini membedah secara detail teknik penerjunan khas pasukan baret merah untuk infiltrasi di hutan lebat. Fokus utama adalah empat langkah taktis yang menjadi fondasi operasi di medan tropis: keheningan, kecepatan, dan kemampuan bertahan hidup di lingkungan tidak bersahabat.
Tahap 1: Penerjunan Malam dan Formasi Bintang
Langkah pertama yang dipaparkan adalah penerjunan dilakukan pada malam hari dari ketinggian hanya 300 meter. Ketinggian ini dipilih untuk meminimalkan waktu di udara dan mengurangi risiko deteksi oleh radar maupun pandangan musuh. Setelah mendarat, setiap anggota segera membentuk formasi bintang—sebuah pola melingkar yang memungkinkan setiap prajurit mengamankan area 360 derajat sambil mengumpulkan perlengkapan yang tersebar. Dalam kondisi hutan yang lebat dan minim pencahayaan, koordinasi melalui kode suara atau sentuhan menjadi krusial untuk menghindari tembakan kawan.
- Penerjunan malam dari ketinggian 300 meter untuk meminimalkan deteksi.
- Setelah mendarat, segera bentuk formasi bintang – pola melingkar untuk mengamankan 360 derajat.
- Koordinasi menggunakan kode suara atau sentuhan untuk menghindari friendly fire.
- Setiap prajurit hafal posisi awal dan bergerak diam-diam dengan isyarat tangan.
Formasi ini tidak hanya efisien dalam mengamankan perimeter, tetapi juga mempersingkat waktu persiapan sebelum bergerak. Setiap prajurit dituntut untuk hafal posisi awalnya dan bergerak secara diam-diam, hanya menggunakan isyarat tangan untuk memastikan semua perlengkapan terkumpul tanpa menimbulkan suara yang mencurigakan.
Tahap 2: Pergerakan Kelompok Kecil dan Survival
Setelah area steril dan perlengkapan terkumpul, tim mulai bergerak dalam kelompok kecil beranggotakan 3–4 orang dengan jarak antar anggota sekitar 10 meter. Jarak ini ideal untuk menjaga kontak visual di tengah rimbunnya dedaunan, namun cukup lebar untuk menghindari serangan beruntun. Untuk navigasi, pasukan hanya mengandalkan kompas dan peta topografi—tanpa alat elektronik yang dapat dilacak. Sebagai kode komunikasi tambahan, mereka menggunakan suara burung lokal yang dimodifikasi, yang sulit dibedakan oleh pihak luar.
Selain taktik pergerakan, aspek survival juga mendapat penekanan khusus. Letkol (Purn) Sugiarto memaparkan teknik membuat bivak dari dedaunan lebat yang tersedia di hutan tropis—tidak hanya untuk berlindung tetapi juga menyamarkan keberadaan dari patroli udara. Memurnikan air dari sumber sungai atau genangan dilakukan dengan metode penyaringan darurat menggunakan kain atau arang. Yang tidak kalah penting adalah cara menghindari jejak:
- Menapak di atas akar atau batu agar tidak meninggalkan bekas di tanah lunak.
- Menutup jejak dengan ranting setelah lewat.
- Semua dilakukan dalam keheningan total; setiap gerakan diperhitungkan agar tidak mengeluarkan suara atau bau yang bisa terdeteksi.
Pelajaran taktis yang bisa diambil dari diskusi ini adalah bahwa operasi di hutan tropis menuntut disiplin tinggi dalam setiap tahap, mulai dari penerjunan malam hingga survival. Komunitas veteran ini tidak hanya berbagi pengalaman tempur, tetapi juga menegaskan bahwa doktrin keheningan, kecepatan, dan kemampuan bertahan hidup masih relevan untuk operasi modern di medan sulit. Setiap langkah, dari formasi bintang hingga teknik penyamaran jejak, dirancang untuk meminimalkan tanda-tanda keberadaan pasukan—prinsip dasar yang tetap diajarkan di pendidikan komando.