Pangkalan TNI AL (Lanal) Tegal melaksanakan Latihan Penindakan Huru-Hara (Dakhura) pada 28 April 2026 sebagai bagian dari program Binopslat TW II, dengan fokus utama pada peningkatan kemampuan teknis dan taktis dalam pengendalian massa. Latihan ini bukan hanya simulasi biasa, tetapi sebuah pembedahan prosedur taktis untuk membentuk prajurit yang mampu membaca dinamika lapangan dan mengambil tindakan tepat dengan koordinasi tinggi. Inti dari Dakhura di Lanal Tegal adalah penerapan formasi Dalmas yang sistematis, komunikasi terpadu, serta respons adaptif terhadap eskalasi konflik.
Formasi Dalmas: Struktur Taktis Pengendalian Massa
Latihan di Lanal Tegal mengedepankan penerapan tiga formasi dasar Dalmas yang masing-masing memiliki fungsi taktis spesifik dalam mengelola kerusuhan. Pelaksanaan formasi tidak hanya sekadar penataan posisi, tetapi mengikuti protokol yang memastikan gerakan terkoordinasi dan tujuan operasional tercapai.
- Formasi Garis: Digunakan untuk membatasi dan mengarahkan pergerakan massa. Prajurit membentuk barisan linier yang solid sebagai "wall" penghalang. Fungsi taktisnya adalah memblokir akses ke area tertentu, menciptakan batas fisik yang jelas, dan memberikan tekanan psikologis untuk mengendalikan arus orang.
- Formasi Baji (Wedging Formation): Berfungsi untuk membuka jalan atau memisahkan kelompok massa yang padat. Unit bergerak dalam bentuk titik atau wedge untuk masuk ke tengah kerumunan dan membuka celah secara bertahap. Manuver ini memerlukan koordinasi tinggi dan kecepatan gerakan untuk mencegah terjebak dalam massa.
- Formasi Kotak (Box Formation): Dipergunakan untuk pengamanan titik vital atau proses evakuasi. Prajurit membentuk perimeter berbentuk kotak di sekitar objek atau personel yang perlu diamankan. Formasi ini memberikan proteksi multi-lapis dan memungkinkan unit bergerak secara kolektif saat melakukan evakuasi.
Protokol Komunikasi dan Tahapan Pelaksanaan
Selain formasi fisik, latihan Dakhura di Lanal Tegal secara instruksional menggarisbawahi pentingnya protokol komunikasi yang ketat untuk memastikan koordinasi antar-unsur tetap terjaga dalam situasi yang dinamis dan berpotensi kacau. Tahapan latihan disusun untuk menciptakan skenario realistis dan mengasah kemampuan adaptif personel.
Komunikasi visual dan radio dilatih dengan prosedur khusus. Visual melibatkan tanda tangan, penggunaan baton, serta gerakan tubuh yang telah dilatih untuk memberi instruksi cepat. Radio komunikasi menggunakan kode dan terminologi standar untuk menghindari misinterpretasi. Koordinasi antar-formasi adalah poin kritis; misalnya, saat formasi baji mulai membuka jalan, formasi garis harus bergerak untuk mengamankan perimeter baru, dan semua ini dikomando melalui satu saluran komando yang terpusat.
Tahapan latihan biasanya meliputi: (1) Briefing dan Pembagian Tim, di mana unit dibagi berdasarkan fungsi dalam formasi Dalmas; (2) Simulasi Pembentukan Formasi di kondisi statis untuk memahami posisi dan prosedur dasar; (3) Manuver Dinamis dengan skenario massa bergerak atau provokator aktif; dan (4) Evaluasi dan Analisis setiap tindakan yang dilakukan untuk mengidentifikasi celah taktis.
Komandan Lanal Tegal Letkol Laut (P) Tato Taufiqurochman menekankan bahwa latihan penindakan huru-hara ini harus dilihat dalam konteks geopolitik global yang meningkatkan kerawanan sosial. Prajurit harus mampu bertindak proporsional, cepat, dan tepat sesuai prosedur tetap. Penekanan khusus diberikan pada kemampuan adaptif, seperti identifikasi provokator, membaca pola eskalasi massa, dan mengambil tindakan yang mencegah kekerasan berlebih sambil tetap mencapai tujuan pengendalian.
Analisis taktis dari latihan Dakhura di Lanal Tegal mengungkap bahwa pengendalian massa efektif tidak hanya bergantung pada kekuatan fisik atau jumlah personel, tetapi pada struktur formasi yang jelas, komunikasi yang tanpa celah, dan kemampuan membaca situasi secara real-time. Formasi Dalmas yang dilatih merupakan toolkit taktis yang, bila diterapkan dengan disiplin protokol, dapat mengubah situasi kerusuhan dari chaos menjadi managed crowd. Pelajaran utama untuk penggemar militer: dalam operasi pengendalian massa, keberhasilan sering kali ditentukan oleh seberapa baik unit dapat bergerak sebagai satu entitas terkoordinasi, bukan sebagai individu.