Latihan gabungan Pacific Eagle 2026 yang digelar di Lanud Iswahjudi, Madiun, merupakan simulasi tempur udara berteknologi tinggi yang fokus pada prosedur interdiksi udara jarak menengah. Operasi ini dirancang untuk mengasah kemampuan TNI AU dan Amerika Serikat dalam melaksanakan penyergapan dan pencegatan terhadap pesawat musuh, dengan mengintegrasikan platform generasi berbeda: F-16 Fighting Falcon dan F-35A Lightning II. Prosesnya tidak dimulai dari manuver pesawat tempur, melainkan dari fase Command and Control yang krusial.
Fase Pertama: Pengintaian dan Penentuan Sasaran oleh E-2D Advanced Hawkeye
Sebelum formasi tempur lepas landas, langkah instruksional pertama adalah membangun situational awareness. Pesawat AWACS E-2D Advanced Hawkeye berperan sebagai 'mata dan otak' di langit. Prosedur standarnya meliputi:
- Pengintaian Elektronik: Memindai dan mengidentifikasi emisi radar serta komunikasi dari semua pesawat di area operasi.
- Penetapan Target Potensial: Membedahkan antara lalu lintas udara biasa dengan ancaman, yang dalam latihan ini diperankan oleh pesawat agresor F-5 Tiger.
- Vektor Pencegat: Setelah target dikonfirmasi sebagai ancaman, AWACS mengirimkan data koordinat, ketinggian, kecepatan, dan vektor pencepatan langsung ke kokpit pesawat tempur yang berada dalam status scramble.
Fase ini menjadi landasan seluruh operasi, karena ketepatan informasi menentukan keberhasilan interdiksi udara selanjutnya.
Skema Taktik Penyergapan: Formasi 'Finger-Four' dan Pembagian Peran
Setelah menerima peringatan dari AWACS, formasi F-16 dan F-35 segera melakukan lepas landas darurat (scramble). Mereka langsung membentuk formasi tempur taktis standar yang disebut 'Finger-Four'. Dalam konteks latihan ini, formasi ini dimodifikasi dengan pembagian peran yang cerdas berdasarkan kemampuan masing-masing platform:
- Pemukul Utama (Shooter): Dua unit F-16 TNI AU diposisikan di ujung formasi. Tugas utama mereka adalah melaksanakan peluncuran rudal berdasarkan data target yang diberikan.
- Pengawal dan Pengumpan (Guard/Feeder): Dua unit F-35A dari USAF berada di posisi tengah. Mereka memanfaatkan karakteristik low observability (stealth) dan sensor AN/APG-81 AESA Radar yang canggih untuk mendeteksi, mengunci (track), dan memantau target dari jarak sangat jauh, jauh sebelum target menyadari kehadiran mereka.
Taktik udara yang diterapkan adalah sensor-shooter separation, di mana platform dengan sensor terbaik tidak harus menjadi penembak, melainkan bertugas sebagai 'pemberi makan' data.
Prosedur Engagemen BVR dan Manuver Pasca-Serangan
Proses penyergapan (engagement) dilakukan di luar jarak pandang visual (Beyond Visual Range/BVR). Prosedur standarnya berjalan sebagai berikut:
- F-35 mengunci target agresor F-5 menggunakan radar dan sistem sensor fusion.
- Data target yang akurat (posisi, kecepatan, arah) kemudian dialirkan secara real-time ke F-16 melalui jaringan Link-16.
- Kru F-16 menerima data, memvalidasi, kemudian mensimulasikan peluncuran rudal AIM-120 AMRAAM dari jarak aman.
- Setelah simulasi serangan BVR selesai, formasi segera melakukan manuver defensif standar yang disebut 'Break and Reform'.
Manuver 'Break and Reform' merupakan langkah taktis vital. Setiap pesawat secara bersamaan berbelok tajam ke arah yang telah ditentukan untuk memutus formasi, dengan tujuan menghindari ancaman rudal balasan atau ancaman darat simulasi (Surface-to-Air Missile/SAM). Setelah jarak aman tercapai, mereka akan berkumpul kembali dan membentuk formasi untuk fase misi berikutnya.
Latihan Pacific Eagle 2026 ini bukan sekadar demonstrasi kemampuan terbang. Ia adalah pengasahan mendalam terhadap Standar Prosedur Operasi (SOP) untuk interoperabilitas dalam pertempuran udara modern. Poin pelajaran taktis utama adalah transisi dari doktrin tempur yang mengandalkan pilot sebagai pusat keputusan (man-in-the-loop) menuju sistem tempur yang mengedepankan jaringan data terintegrasi (network-centric warfare). Keberhasilan interdiksi udara masa kini sangat bergantung pada kecepatan pertukaran informasi, akurasi data sensor, dan kemampuan platform berbeda 'berbicara' dalam bahasa data yang sama, sebagaimana ditunjukkan oleh kolaborasi F-16 dan F-35 ini.