Pada 30 Oktober 2026, TNI AL dan Polairud menggelar latihan patroli laut terpadu di perairan Selat Malaka dengan skema taktis 'Gabungan 1'. Latihan ini menyimulasikan penyergapan kapal penyelundup narkoba dan imigran ilegal menggunakan formasi pincer laut — manuver penjepitan dari dua arah yang memaksa target kehilangan ruang gerak. Dengan melibatkan 3 kapal perang TNI AL (KRI Diponegoro-365, KRI Sultan Iskandar Muda-367, KRI Bung Tomo-357) dan 5 kapal patroli Polairud, latihan dirancang untuk menguji sinkronisasi deteksi, intersepsi, dan boarding dalam waktu singkat.
Tahapan Operasi: Deteksi Hingga Boarding
Latihan patroli laut terpadu ini dibagi dalam tiga fase utama yang dijalankan secara berurutan:
- Fase Deteksi: Kapal-kapal TNI AL dan Polairud menyapu Selat Malaka menggunakan radar permukaan dan UAV maritim ScanEagle. ScanEagle memberikan gambaran real-time tentang pergerakan target, termasuk kecepatan dan haluan, dari ketinggian jelajah 1.500 kaki.
- Fase Intersepsi: Begitu target teridentifikasi sebagai kapal mencurigakan, dua kapal perang TNI AL — KRI Diponegoro-365 dan KRI Sultan Iskandar Muda-367 — melaksanakan manuver pincer dari barat dan timur. Sementara itu, tiga kapal Polairud membatasi ruang gerak target dari utara dan selatan, menciptakan kantong isolasi yang mempersempit opsi melarikan diri target.
- Fase Boarding: Tim boarding TNI AL diterjunkan menggunakan RHIB (Rigid Hull Inflatable Boat) berkecepatan 40 knot. Proses naik ke kapal target dilakukan dengan tali tangga sementara personel bersenjata mengamankan area sekitar. Seluruh rangkaian dari deteksi hingga boarding diselesaikan dalam waktu rata-rata 35 menit — lebih cepat 25 menit dari standar 60 menit.
Evaluasi dan Pelajaran Taktis dari Latihan Patroli Laut Terpadu
Hasil evaluasi menunjukkan bahwa sinergi antara TNI AL dan Polairud dalam latihan patroli laut terpadu ini berhasil memangkas waktu respons secara signifikan. Faktor kunci yang mendorong efisiensi adalah penggunaan UAV ScanEagle yang mampu memberikan data intelijen tanpa jeda, serta koordinasi formasi pincer yang memanfaatkan keunggulan kecepatan kapal perang TNI AL dan kelincahan kapal patroli Polairud di Selat Malaka. Polairud, dengan kapal-kapal yang lebih kecil dan gesit, efektif dalam membatasi manuver target tanpa perlu mendekat terlalu rawan, sementara kapal perang TNI AL menyediakan daya gentar dan kemampuan boarding yang lebih berat.
Pelajaran taktis yang bisa dipetik adalah pentingnya memadukan aset udara tak berawak dengan formasi penjepitan laut untuk memaksimalkan coverage area dan menekan waktu respons. Dalam operasi nyata, kombinasi ini tidak hanya mempercepat intersepsi tetapi juga mengurangi risiko bagi personel karena target sudah terisolasi sebelum tim boarding turun. Latihan ini juga menegaskan bahwa standar 60 menit masih bisa ditingkatkan dengan pelatihan rutin dan pemutakhiran prosedur, terutama dalam hal komunikasi antarunsur dan penyelarasan kecepatan manuver.