Latihan yang digelar Penerbad di Baturaja ini menampilkan alur standar prosedur Combined Arms dengan helikopter tempur Gunship sebagai elemen pendukung tembak utama. Alur taktiknya dimulai dari fase perencanaan intelijen, di mana posisi musuh yang diperkuat diidentifikasi oleh Unmanned Aerial Vehicle (UAV). Data intel ini kemudian menjadi dasar untuk menyusun rencana serangan terkoordinasi, yang menempatkan sepasang Apache AH-64E sebagai alat pembuka jalan bagi asault pasukan infanteri mekanis dari Kostrad. Prosedur ini menguji ketepatan Close Air Support dan sinkronisasi pergerakan antara unsur udara dan darat.
Skema Assault Terkoordinasi: Fiksasi Darat dan Penyergapan Udara
Serangan dilaksanakan dengan doktrin klasik ‘fix and flank’, tetapi dengan elemen udara sebagai ‘flanking’ utama. Prosedurnya terdiri dari beberapa fase yang berjalan berurutan dan saling mengunci:
- Fase Fiksasi dan Pengikatan: Unsur darat, yaitu pasukan infanteri yang diangkut oleh Infantry Fighting Vehicle (IFV) Marder, melakukan gerakan maju dan mengikat kontak tembak dengan posisi musuh. Tujuan tahap ini bukan untuk menyerbu, melainkan memfiksasi perhatian dan daya tembak lawan pada sektor depan.
- Fase Infiltrasi dan Pendekatan Udara: Sementara kontak tembak terjadi di darat, dua unit Apache AH-64 melakukan infiltrasi menggunakan teknik nap-of-the-earth (NOE). Mereka terbang rendah, memanfaatkan kontur medan sebagai masker untuk menghindari deteksi radar dan mencapai attack position secara diam-diam di sisi atau belakang formasi musuh.
- Fase Koordinasi dan Penunjukan Sasaran: Komunikasi kritis terjadi antara Forward Air Controller (FAC) di lapangan dengan awak Apache. FAC memberikan penunjukan sasaran (target designation) secara real-time melalui frekuensi terenkripsi, memastikan tembakan udara tepat mengenai posisi yang mengancam pasukan sendiri.
Eksekusi Serangan dan Peralihan Peran Apache
Setelah berada pada posisi tembak optimal, Apache memulai eksekusi serangan dengan urutan tembakan yang terstruktur untuk maksimalkan efek kejut dan kerusakan:
- Gun-Run Presisi: Serangan pertama dilakukan menggunakan kanon otomatis M230 Chain Gun kaliber 30mm untuk menghancurkan sasaran titik (point target) seperti bunker ringan, posisi senapan mesin, atau kendaraan ringan musuh.
- Suppression Area dengan Rocket Pods: Untuk menekan area yang lebih luas dan memecah konsentrasi pertahanan musuh, Apache melancarkan roket Hydra 70 dari pod roketnya. Tembakan ini berfungsi sebagai suppressive fire untuk membuka jalan bagi infanteri.
- Assault dan Pengamanan: Setelah serangan udara melemahkan pertahanan musuh secara signifikan, pasukan infanteri mekanis melaksanakan gerakan assault terakhir untuk merebut dan mengamankan posisi tujuan.
Setelah tujuan darat tercapai, peran Apache tidak berakhir. Helikopter ini segera beralih fungsi menjadi armed reconnaissance dan memberikan overwatch. Dari ketinggian, mereka mengawasi area operasi untuk mendeteksi ancaman tersisa atau pergerakan bala bantuan musuh. Jika ancaman berat terdeteksi, Apache masih memiliki daya pukul final dengan rudal Hellfire untuk menetralisir target seperti kendaraan lapis baja dari jarak aman. Latihan ini secara gamblang menekankan pentingnya timing yang presisi antara unsur penekan dari udara dan moment of assault dari darat, serta manajemen deconfliction yang ketat untuk mencegah tembak teman (fratricide).
Pelajaran taktis utama dari latihan ini adalah tentang optimalisasi doktrin Combined Arms dalam medan kompleks. Penggunaan Apache AH-64E tidak sekadar sebagai platform tembak lepas, tetapi sebagai unsur maneuver yang terintegrasi penuh dengan taktik darat. Kemampuannya dalam NOE flying memungkinkan penyergapan dari arah yang tak terduga, sementara koordinasi via FAC menjamin akurasi dukungan tembak. Latihan semacam ini mengasah kemampuan Penerbad dan pasukan Kostrad dalam melaksanakan operasi ofensif terpadu yang cepat, mematikan, dan meminimalkan korban di pihak sendiri.