Pelatihan tingkat batalyon di Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Baturaja memasuki tahap operasional dengan mengimplementasikan skema taktik kombinasi yang dinamis: 'Offensive-Defensive'. Core dari skema ini adalah kemampuan sebuah satuan infanteri untuk bertransisi cepat dari posisi bertahan statis menjadi serangan terkoordinasi, sebuah kemampuan krusial dalam operasi tempur modern. Fase awal latihan ini menuntut kesiapan logistik dan pergerakan taktis yang presisi.
Fase I: Persiapan dan Pembentukan Pertahanan Berlapis
Instruksi pertama yang diberikan kepada batalyon infanteri adalah melakukan 'approach march'—pergerakan taktis dari titik awal menuju Area Kontak Awal (Initial Contact Area/ICA). Pergerakan ini dilakukan dengan formasi kolom untuk memaksimalkan kecepatan dan kontrol komando sebelum memasuki zona potensi kontak. Setelah mencapai ICA, komandan batalyon menginstruksikan pembentukan pertahanan berlapis (layered defense), yang dirancang untuk menahan, mengapit, dan mendukung.
- Garis Depan (Holding Force): Diisi oleh Kompi Senapan. Fungsi utama mereka adalah sebagai 'penahan'—menciptakan titik kontak utama dan mengikat pasukan lawan di posisi mereka.
- Posisi Sayap (Flanking Force): Diisi oleh Kompi Senapan Mesin. Unit ini ditempatkan di posisi samping untuk membangun potensi manuver pengapit (flanking) atau pengepungan (envelopment) pada fase berikutnya.
- Posisi Belakang (Indirect Fire Support): Diisi oleh Kompi Mortir. Mereka bertugas memberikan dukungan tembakan tidak langsung, dengan posisi yang relatif aman untuk mengcover area depan dan sayap.
Fase II: Transisi dan Pelaksanaan Serangan Terkoordinasi
Transisi dari bertahan ke menyerang dimulai dengan trigger informasi intelijen. Elemen pengintai melaporkan titik lemah atau celah pada formasi pertahanan lawan. Berdasarkan laporan ini, komandan mengaktifkan skema serangan. Kompi Senapan Mesin sebagai 'flanking force' melakukan manuver 'single envelopment'—pengepungan satu sisi—untuk menyerang posisi lawan dari arah samping atau belakang. Manuver ini dirancang untuk mengeksploitasi titik lemah yang telah diidentifikasi.
Saat serangan sayap mulai berlangsung dan mengalihkan perhatian lawan, Kompi Senapan di garis depan melaksanakan 'frontal attack' terbatas. Serangan frontal ini bukan untuk menembus, tetapi untuk mengikat (fix) musuh lebih kuat, menghambat mereka dari mengalihkan sumber daya untuk menghadapi serangan dari sayap. Seluruh manuver ini didukung oleh Kompi Mortir yang mengimplementasikan pola tembakan 'creeping barrage'. Pola ini berupa rentetan tembakan mortar yang maju secara bertahap di depan garis serangan pasukan, menciptakan 'zona aman bergerak' yang melindungi infantry yang sedang melakukan advance. Koordinasi seluruh elemen ini dijamin melalui jaringan komunikasi menggunakan radio terenkripsi dengan prosedur panggilan tembakan (fire support call) yang standar.
Latihan di Puslatpur Baturaja ini bukan hanya soal penguasaan fasilitas baru, tetapi tentang menanamkan doktrin taktis yang fleksibel. Skema 'Offensive-Defensive' mengajarkan bahwa pertahanan tidak boleh statis, tetapi harus menjadi platform untuk serangan balik yang cepat dan menentukan. Keberhasilan skema ini bergantung pada disiplin dalam fase persiapan (approach march dan formasi defense), kecepatan interpretasi intelijen untuk trigger transisi, serta koordinasi sempurna antara holding force, flanking force, dan indirect fire support—sesuatu yang hanya bisa dicapai melalui latihan tempur repetitif dan terukur seperti yang disediakan di Baturaja.