Dalam prosedur Sistem Pengamanan Kota (Sispamkota), fase pengendalian massa dimulai dengan preventive deployment atau penyebaran preventif. Personel Polres Demak dari satuan Dalmas (Pengendalian Massa) dan Samapta membentuk perimeter awal di sekitar titik perkiraan konsentrasi massa, berfungsi sebagai mata dan telinga pertama untuk early detection of escalation. Formasi ini tidak bersifat konfrontatif, melainkan bertujuan monitoring ketat dan membangun psychological presence yang mencegah eskalasi dini sebelum unjuk rasa dimulai. Setiap personel dilengkapi dengan alat komunikasi yang terintegrasi ke pusat kendali untuk melaporkan dinamika massa secara real-time.
Tahap Kontainmen dan Isolasi: Membangun Barikade dan Aplikasi Tekanan Bertahap
Ketika massa mulai menunjukkan tanda-tanda agresi dan berpotensi ricuh, komando akan mengaktifkan fase kedua: containment dan isolation. Tujuan taktisnya adalah membatasi ruang gerak massa, mencegah penyebaran, dan mengisolasi elemen penggerak. Prosedur standar yang diterapkan dalam simulasi meliputi empat tahap kunci secara berurutan:
- Formation of Barricade: Personel Dalmas dan unit pendukung dengan cepat membentuk barikade fisik menggunakan perisai panjang (shield wall), kendaraan, dan barrier equipment portable. Formasi ini dirancang untuk menciptakan garis batas yang jelas dan sulit ditembus.
- Gradual Pressure Application: Setelah barikade terbentuk, unit akan secara bertahap mengurangi ruang yang dapat digunakan massa dengan metode slow advance. Gerakan ini terkendali, bertujuan mendorong massa tanpa memicu kepanikan atau respons kekerasan tiba-tiba.
- Verbal Warning dan Negosiasi: Sebelum tindakan fisik lebih lanjut, designated negotiator akan menyampaikan peringatan resmi dan membuka jalur komunikasi. Upaya ini adalah bagian dari prinsip graduated response untuk memberi kesempatan de-eskalasi.
- Activation of Tactical Unit: Jika negosiasi gagal dan kondisi memanas, unit taktis khusus diaktivasi untuk melakukan dispersal atau pembubaran. Metode yang digunakan terukur, seperti formasi baji (wedge formation) untuk membelah kerumunan, atau garis depan (skirmish line) untuk mendorong massa secara terorganisir.
Restorasi Ketertiban dan Pasca-Operasi
Fase ketiga dan terakhir dalam skenario Sispamkota adalah restoration of order. Tujuan operasional beralih dari pengendalian menjadi pemulihan. Prosedur ini bersifat komprehensif dan sistematis, mencakup beberapa aktivitas paralel: securing the area dengan menjaga perimeter ketat untuk mencegah massa berkumpul kembali; evacuation of injured personnel baik dari pihak massa maupun petugas dengan tim medis khusus; serta evidence collection oleh unit identifikasi untuk mengumpulkan barang bukti dan dokumentasi forensik kejadian. Tahap krusial adalah post-operation debriefing, dimana seluruh komandan unit dan personel kunci mengkaji ulang efektivitas taktik, komunikasi, dan penggunaan peralatan, sebagai bahan evaluasi untuk penyempurnaan prosedur di masa depan.
Latihan skala besar ini menguji tiga aspek fundamental operasi kontrol massa: command and control dalam pengambilan keputusan berjenjang, communication antar satuan yang berbeda fungsi (Dalmas, Samapta, Brimob, Intelijen), serta penggunaan non-lethal tactic and equipment seperti gas air mata, water cannon, dan alat pengeras suara dalam skenario civil disorder. Strategi inti yang diterapkan adalah graduated response, sebuah doktrin dimana tingkat dan intensitas respons penegak hukum disesuaikan secara proporsional dengan tingkat ancaman atau pelanggaran hukum yang terjadi, menghindari penggunaan kekuatan yang berlebihan.
Dari simulasi ini, terdapat pelajaran taktis penting bagi penggemar militer dan kepolisian: keberhasilan operasi kontrol massa tidak hanya bergantung pada kekuatan personel, tetapi pada struktur komando yang tanggap, disiplin formasi, dan transisi yang mulus antara fase preventif, konfrontatif, dan restoratif. Konsep Sispamkota menekankan bahwa barikade dan formasi fisik hanyalah alat; yang utama adalah kemampuan membaca dinamika massa, timing dalam penerapan tekanan, dan menjaga jalur komunikasi sebagai upaya akhir sebelum tindakan dispersi. Ini adalah gambaran nyata dari penerapan prinsip minimum force dalam lingkungan operasi yang kompleks dan dinamis.