Latihan Sistem Pengamanan Kota atau Sispamkota yang digelar Polres Ogan Komering Ulu (OKU) bukan sekadar simulasi biasa. Latihan ini menerapkan protap atau prosedur tetap berjenjang yang dirancang untuk mengatasi eskalasi kekacauan dari titik awal yang kecil menjadi kerusuhan berskala besar. Simulasi dimulai dengan skenario realistis di SPBU, di mana antrean panjang dan kelangkaan BBM memicu protes sopir. Instruksi pertama bagi personel adalah mediasi aktif dan penerapan pembatasan pengisian BBM 20 liter per kendaraan untuk meredam ketegangan di titik awal sebelum isu menyebar.
Eskalasi Massa dan Aktivasi Sispamkota Full Scale
Simulasi kemudian memasuki fase kritis di mana insiden di SPBU yang viral di media sosial memicu aksi unjuk rasa damai oleh 20 mahasiswa. Saat massa tiba di Gedung DPRD OKU, jumlahnya membengkak menjadi 200 orang. Satuan Intelijen Kamtibmas (Intelkam) kemudian melaporkan pergerakan tambahan sekitar 900 massa dari sembilan kecamatan yang bergerak menuju lokasi yang sama. Melihat eskalasi ini, Kapolres OKU segera memerintahkan penerapan Protap Sispamkota secara full scale. Langkah-langkah taktis yang diambil dirancang untuk mengisolasi, mengontrol, dan mengamankan area.
- Sistem Rayonisasi: Wilayah pengamanan dibagi menjadi sektor-sektor untuk memudahkan komando dan kontrol serta pengerahan personel secara efisien.
- Penyekatan Massa di Titik Strategis: Dibentuk titik-titik penyekatan untuk membatasi dan menghambat pergerakan massa tambahan menuju titik episentrum kerusuhan.
- Pengamanan Lalu Lintas Arteri Utama: Jalan arteri utama diamankan untuk menjaga mobilitas pasukan dan logistik, serta mencegah penyumbatan yang dapat dimanfaatkan massa.
- Penempatan Tim Negosiator: Tim negosiator diposisikan di titik kontak untuk membuka jalur komunikasi dan meredam emosi massa.
- Siaga Tempur AWC: Kendaraan Armoured Water Cannon (AWC) disiagakan dalam posisi siap tembak sebagai pilihan force continuum tingkat lanjut jika negosiasi gagal.
Manuver Dalmas Lanjut dan Sterilisasi Area Paska Kontak
Skenario mencapai puncaknya ketika massa yang terprovokasi mulai melempari petugas dengan batu dan benda tumpul, serta berusaha mendobrak masuk ke Gedung DPRD. Situasi secara resmi dinaikkan ke level pengamanan lanjutan. Pada tahap ini, personel Dalmas (Pasukan Pengendali Kerusuhan) Lanjut diterjunkan sesuai dengan prosedur operasional standar (SOP) penanganan kerusuhan. Personel Dalmas bergerak dalam formasi terstruktur—biasanya formasi garis, baji, atau lingkaran—untuk membubarkan massa, mengamankan perimeter, dan menahan penggerak utama. Setelah situasi fisik dapat dikuasai dan massa dibubarkan, tahap final dimulai. Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) mengambil alih untuk melakukan sterilisasi area. Tugas ini meliputi:
- Pembersihan lokasi dari sisa-sisa benda berbahaya atau alat perlawanan.
- Pengumpulan barang bukti untuk penyidikan.
- Pemeriksaan menyeluruh untuk memastikan tidak ada ancaman residual atau tersembunyi yang tertinggal.
- Pengembalian kondisi area ke status normal dan aman.
Latihan ini secara komprehensif menguji kemampuan personel dalam menerapkan protap secara dinamis, mulai dari level ringan (mediasi) hingga level berat (pengerahan Dalmas dan AWC). Poin pembelajaran taktis yang krusial adalah pentingnya deteksi dini oleh satuan Intelkam, kecepatan dalam mengambil keputusan eskalasi-deeskalasi, serta koordinasi mulus antar satuan—mulai dari Brimob, Dalmas, Lantas, hingga Reskrim—dalam satu komando terpadu Sispamkota. Latihan seperti ini memperkuat muscle memory prosedural bagi aparat dalam menghadapi dinamika unjuk rasa yang dapat berubah dengan cepat dari damai menjadi destruktif.