Sketsa Taktis
Memahami Strategi, Membangun Kekuatan Bangsa
SIMULASI

TNI AL Latihan Anti-Access/Area Denial (A2/AD) di Selat Sunda, Simulasi Penghadapan Kapal Selam Musuh

Latihan A2/AD TNI AL di Selat Sunda mensimulasikan skenario deteksi dan penetralan kapal selam musuh melalui prosedur berjenjang, mulai dari pembentukan pagar akustik sonobuoy, formasi layar kapal perang, hingga simulasi peluncuran torpedo. Latihan ini menekankan integrasi sensor dan komando, serta penerapan taktik evasif seperti pola zig-zag dan penggunaan umpan akustik. Intinya, latihan ini merupakan implementasi doktrin taktis laut modern untuk menguasai choke point strategis dari ancaman bawah permukaan.

TNI AL Latihan Anti-Access/Area Denial (A2/AD) di Selat Sunda, Simulasi Penghadapan Kapal Selam Musuh

Latihan Anti-Access/Area Denial (A2/AD) yang digelar TNI AL Kawasan Barat di Selat Sunda menitikberatkan pada skenario penyisiran dan penetralan ancaman kapal selam musuh. Latihan ini dirancang dalam prosedur berjenjang, dimulai dengan fase deteksi jarak jauh hingga tahap penyergapan menggunakan simulasi peluncuran torpedo. Sasaran utama latihan adalah membentuk acoustic bubble atau gelembung akustik yang mencegah kapal selam lawan menyusup ke area kritis perairan Indonesia, sesuai dengan konsep A2/AD dalam taktik laut modern.

Formasi Layar dan Pembentukan Gelembung Akustik: Fase Deteksi

Operasi diawali dengan fase long-range detection. Pesawat patroli maritim Boeing 737-200 Surveiller berperan sebagai pemandu awal dengan melakukan sonobuoy deployment. Sonobuoy—sensor akustik apung—ini diturunkan secara terkoordinasi untuk membentuk acoustic barrier atau pagar akustik di daerah yang diduga dilintasi kapal selam lawan. Data sonik dari sonobuoy dikirim secara real-time ke pusat komando untuk analisis awal.

Sementara itu, di permukaan laut, satuan kapal perang membentuk screen formation. Formasi ini terdiri dari:

  • Kapal Komando (Command Ship): Biasanya fregat yang berfungsi sebagai pusat pengendali operasi dan fusi data.
  • Kapal Penyaring (Screen Units): Korvet atau kapal cepat yang berposisi di depan atau di sekitar kapal komando, membentuk layar pertahanan.
  • Kapal Pendukung (Support Unit): Bertugas melakukan manuver pengalih atau meluncurkan umpan akustik jika diperlukan.

Dengan formasi ini, satuan kapal dapat melakukan sweeping atau penyisiran secara sistematis, mempersempit area pencarian, dan memaksimalkan cakupan sensor sonar aktif maupun pasif yang dimiliki.

Prosedur Penyergapan: Dari Kontak Sonar hingga Simulasi Peluncuran

Setelah formasi terbentuk, fase berikutnya adalah target prosecution. Prosedur dimulai dengan penggunaan passive sonar. Operator sonar di kapal akan menyaring semua kebisingan latar (ambient noise) untuk mengidentifikasi acoustic signature yang khas dari kapal selam target, seperti suara baling-baling, mesin, atau getaran tertentu. Identifikasi ini disebut sebagai Initial Contact.

Kontak yang terdeteksi kemudian ditingkatkan statusnya menjadi Confirmed Contact melalui proses klasifikasi. Begitu target terkonfirmasi, kapal penyerang akan beralih ke active sonar atau pinging. Langkah ini dilakukan untuk mendapatkan data presisi berupa: jarak, kecepatan, kedalaman, dan arah gerak target. Data ini vital untuk menyusun Firing Solution—parameter penembakan yang akan dimasukkan ke sistem kendali senjata.

Simulasi peluncuran torpedo dilakukan mengikuti doktrin standar submarine engagement yang ketat, dengan tahapan berikut:

  • Weapon Preparation: Torpedo dipersiapkan di tabung peluncur dan data target diinput ke sistem pemandunya.
  • Calculation of Lead Angle: Komputer tembak menghitung sudut pendahuluan (lead angle) berdasarkan kecepatan, arah target, dan kecepatan torpedo untuk memastikan jalur tabrakan.
  • Launch Authorization: Komandan di Command Center memberikan otorisasi penembakan setelah semua parameter divalidasi.

Selama latihan, juga dilakukan simulasi taktik Evasive Maneuvering oleh unit kapal yang diasumsikan menjadi sasaran balasan. Manuver ini menggabungkan zig-zag pattern (pola berbelok tak teratur) dengan pelepasan noise maker decoy (umpan akustik) untuk menggagalkan pedoman torpedo musuh yang menggunakan homing akustik.

Secara taktis, latihan ini mengajarkan pentingnya integrasi data udara (pesawat) dan laut (kapal) dalam peperangan anti-kapal selam. Penggunaan sonar secara bergantian—pasif untuk stealth dan deteksi awal, aktif untuk penargetan presisi—adalah inti dari doktrin modern. Latihan di Selat Sunda, sebuah choke point strategis, juga mempertegas implementasi konsep A2/AD ala TNI AL yang berfokus pada penguasaan dan penyekatan jalur laut sempit dari ancaman tersembunyi di bawah permukaan.

ENTITAS TERDETEKSI
Organisasi: TNI AL, Arma Barat, Armada TNI AL Kawasan Barat
Lokasi: Selat Sunda