Lanud Iswahjudi, Madiun, menjadi ajang uji coba prosedur intercept dengan skema Angkasa Raya yang digelar oleh TNI AU. Latihan ini melibatkan dua skuadron pesawat tempur, yakni Hawk 200 dan Su-27, untuk menguji kesiapan pencegat terhadap ancaman udara tak dikenal. Skema ini dirancang sebagai simulasi penuh tahapan pencegatan, mulai dari deteksi radar hingga manuver pengawalan di sisi sasaran.
Tahapan Prosedur Intercept Angkasa Raya
Prosedur intercept dalam skema Angkasa Raya dimulai begitu radar memunculkan sasaran udara tak dikenal pada jarak 200 kilometer. Dari titik inilah alur koordinasi antarawak dan antarskuadron bekerja. Secara berurutan, tahapan yang dilakukan adalah:
- Deteksi sasaran udara tak dikenal oleh radar dengan jangkauan 200 km;
- Pesawat Hawk 200 lepas landas dengan interval 5 menit untuk membentuk formasi two-ship line abreast;
- Setelah kontak visual, pilot pemimpin melaksanakan split maneuver — satu pesawat naik ke ketinggian 10.000 kaki untuk pengecekan visual, sementara pesawat lain tetap di 5.000 kaki untuk menjaga jarak aman;
- Tahap identifikasi dilakukan dengan menggunakan kode lateral dan komunikasi radio, termasuk pertanyaan khas "berita terkini" untuk membedakan pesawat komersial;
- Jika tidak ada jawaban atau identifikasi gagal, pesawat Su-27 melaksanakan pencegatan (intercept) dengan manuver flying guard di posisi sayap kanan sasaran.
Formasi two-ship line abreast dipilih karena memberikan fleksibilitas saat membelah area pengawasan. Saat split maneuver dijalankan, pemisahan ketinggian 10.000 kaki dan 5.000 kaki memungkinkan satu pesawat fokus pada identifikasi visual tanpa kehilangan kontak radar terhadap sasaran. Ini adalah pola yang lazim dalam prosedur pencegat untuk menghindari sasaran bermanuver mendadak.
Peran Su-27 dan Efisiensi Waktu Intercept
Jika tahap identifikasi menunjukkan bahwa sasaran tidak memberikan respons yang layak, maka tugas pencegatan berpindah ke skuadron Su-27. Pesawat ini melaksanakan intercept dengan manuver flying guard, yaitu menempatkan diri di sisi sayap kanan sasaran untuk mengawal sekaligus memberi sinyal visual yang tidak bisa diabaikan. Penempatan di sisi kanan bukan tanpa alasan; posisi ini menjadikan pesawat terlihat jelas dari kokpit pesawat sasaran serta memudahkan pilot untuk mengontrol pergerakan.
Hasil uji coba menunjukkan adanya perbaikan signifikan dalam respons taktis. Rata-rata waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan seluruh proses intercept — dari deteksi hingga pencegatan — turun dari 15 menit menjadi hanya 11 menit. Penghematan 4 menit ini menjadi bukti bahwa prosedur Angkasa Raya berhasil memangkas jeda koordinasi antara radar, skuadron Hawk 200, dan skuadron Su-27.
Pelajaran taktis yang bisa dipetik dari uji coba ini adalah pentingnya pembagian peran yang tegas dalam prosedur pencegat. Skuadron Hawk 200 bertanggung jawab pada identifikasi awal dan pembentukan gambar situasi, sementara Su-27 bertindak sebagai penindak akhir. Tanpa prosedur identifikasi yang runtut dan pertanyaan "berita terkini" sebagai penyaring pesawat sipil, risiko kesalahan pencegatan akan jauh lebih besar. Skema Angkasa Raya menunjukkan bahwa kesiapan TNI AU dalam menghadapi sasaran udara tak dikenal bukan hanya soal kecepatan, tetapi juga soal ketepatan prosedur.