Korps Brimob Polri kembali membuktikan bahwa pengendalian massa modern tidak lagi sekadar mengandalkan kekuatan fisik, melainkan integrasi teknologi intelijen udara dan manuver darat dalam satu rantai komando terkoordinasi. Pada 31 Oktober 2026, di Lapangan Tembak Brimob, Cimanggis, digelar uji coba taktik yang memadukan drone pengintai termal dan kendaraan taktis untuk membedah alur penanganan kerumunan dari fase deteksi hingga evaluasi. Skenario yang diangkat adalah demo mahasiswa yang berubah ricuh — sebuah laboratorium taktis bagi integrasi teknologi udara dan darat dalam pengendalian massa.
Tahap 1: Pemetaan Termal dan Penguasaan Informasi Udara
Langkah pertama yang dieksekusi adalah memetakan situasi kerumunan menggunakan dua unit drone quadcopter yang dilengkapi kamera termal. Drone diterbangkan pada ketinggian 50 meter untuk memindai pola pergerakan massa sekaligus mendeteksi titik panas — area dengan konsentrasi energi atau potensi eskalasi. Data yang dikirim bukan hanya citra visual, melainkan juga informasi suhu yang membantu mengidentifikasi aktivitas agresif di tengah kerumunan.
- Dua drone quadcopter dioperasikan simultan untuk redundansi dan cakupan area yang lebih luas.
- Ketinggian 50 meter dipilih untuk menghindari deteksi langsung oleh massa, tetapi tetap menghasilkan resolusi cukup untuk analisis taktis tingkat lanjut.
- Data termal dikirim secara real-time ke pusat komando yang berada di dalam kendaraan taktis, memungkinkan pengambilan keputusan berbasis data langsung di lapangan.
Pada tahap ini, pusat komando berperan sebagai otak operasi. Informasi dari drone diintegrasikan dengan peta situasi dan status pasukan, sehingga komandan dapat menentukan titik masuk, jalur evakuasi, dan sektor prioritas sebelum pasukan darat bergerak. Inilah esensi pengendalian massa modern: memenangkan pertempuran informasi sebelum kontak fisik terjadi.
Tahap 2: Manuver Darat, Formasi V Terbalik, dan Isolasi Provokator
Setelah pemetaan selesai, tahap kedua diluncurkan dengan mengerahkan tim perintis menggunakan kendaraan taktis jenis Huron yang dilengkapi water cannon dan sound cannon. Kehadiran kendaraan ini bukan sekadar intimidasi, melainkan instrumen kendali jarak jauh yang mampu menekan massa tanpa kontak fisik langsung. Formasi yang digunakan adalah barisan V terbalik — sebuah manuver klasik yang bertujuan membelah kerumunan menjadi dua bagian, memecah kohesi, dan mengalihkan fokus massa ke dua arah berbeda, sehingga elemen provokator lebih mudah diisolasi.
- Water cannon digunakan untuk mendorong mundur garis depan massa, sementara sound cannon mengeluarkan gelombang suara terarah untuk membubarkan konsentrasi di titik tertentu.
- Tim penangkapan bergerak di belakang barisan, memanfaatkan celah yang terbentuk akibat formasi V terbalik, untuk mengamankan provokator secara cepat dan presisi tanpa terjebak dalam kerumunan.
- Prosedur ini menegaskan pentingnya pembagian peran: tim perintis sebagai penekan, formasi V sebagai pemecah struktur massa, dan tim penangkapan sebagai eksekutor.
Uji coba ini menunjukkan bahwa Brimob tidak hanya mengadopsi teknologi, tetapi juga menyempurnakan doktrin pengendalian massa dengan pendekatan berbasis data dan manuver terukur. Ke depannya, integrasi drone dan kendaraan taktis diharapkan menjadi standar prosedur operasi tetap dalam menghadapi kerumunan yang berpotensi anarkis. Pelajaran taktis yang bisa dipetik adalah pentingnya penguasaan informasi udara sebelum kontak darat — karena dengan mengetahui pola pergerakan massa dan titik rawan, pasukan dapat bertindak lebih presisi, mengurangi risiko korban, dan meningkatkan efektivitas isolasi provokator.