TNI AU kembali menggelar latihan tempur udara bertajuk "Elang Nusantara" di Pangkalan Udara Iswahjudi, Madiun. Latihan ini mempertemukan skadron F-16 Fighting Falcon dan Su-27/30 dalam skenario pertempuran udara yang mencakup dua fase kritis: Beyond Visual Range (BVR) dan dogfight jarak dekat. Tidak sekadar latihan rutin, Elang Nusantara dirancang untuk mengasah taktik dan prosedur yang diterapkan dalam menghadapi ancaman udara nyata, terutama di wilayah Natuna yang menjadi perhatian khusus TNI AU.
Fase BVR: Menembus Pertahanan Radar dengan Terrain Masking
Fase BVR dimulai dengan tahap intelejen, di mana pilot mempelajari profil lawan berdasarkan data radar dan analisis jalur terbang. Informasi ini kemudian digunakan dalam mission planning yang mencakup penentuan titik intercept dan ketinggian ideal, serta rute masuk yang memanfaatkan kontur daratan untuk menghindari deteksi. Setiap formasi terdiri dari elemen lead dan wingman yang menjaga jarak aman 2-3 mil untuk memaksimalkan jangkauan radar dan dukungan taktis.
Dalam pelaksanaannya, pilot diajarkan prosedur penggunaan radar dalam mode scan dan teknik terrain masking untuk mendekati target tanpa terdeteksi. Setelah mencapai jarak sekitar 40 mil, mereka meluncurkan simulated AIM-120 dengan urutan fire-and-forget. Ketika musuh meluncurkan rudal balasan, dilakukan defensive split sambil menjalankan manuver seperti split-S dan high-G barrel roll untuk memecahkan kuncian radar. Seluruh gerakan dipandu instruktur dan dievaluasi melalui debriefing dengan rekaman HUD dan telemetri.
- Radar mode scan: Mengoptimalkan pencarian target sambil meminimalkan emisi yang bisa dideteksi lawan.
- Terrain masking: Memanfaatkan bukit dan lembah untuk menyembunyikan pesawat dari radar musuh.
- Fire-and-forget: Rudal diluncurkan dan pilot segera melakukan manuver defensif tanpa harus mengarahkan rudal secara manual.
- Defensive split: Pemisahan formasi untuk memaksa musuh membagi kuncian radarnya.
Dogfight: Mengelola Energi dan Akurasi Tembakan Meriam
Setelah kedua pihak saling bertemu dalam jarak visual, pertempuran beralih ke fase dogfight. Di sinilah pilot TNI AU menjalankan Basic Fighter Maneuvers (BFM) seperti pitch-back, low-speed yo-yo, dan scissors untuk mengungguli lawan. Setiap manuver bertujuan untuk membawa pesawat ke posisi yang menguntungkan, baik untuk menembak dengan meriam maupun menghindari tembakan lawan.
Prosedur penggunaan gun sight dan pipper lead dijelaskan secara detail selama latihan. Pilot harus mampu memperhitungkan sudut lead yang tepat sesuai dengan pergerakan target. Seluruh latihan diakhiri dengan evaluasi energi taktis, di mana pilot belajar mengelola energi pesawat—baik potensial maupun kinetik—agar tidak kehilangan keunggulan posisi. Komandan Lanud Iswahjudi menekankan bahwa seluruh pilot harus mampu menerapkan BFM secara disiplin agar siap menghadapi setiap ancaman udara, khususnya di wilayah Natuna.
Pelajaran taktis yang bisa dipetik dari latihan ini adalah pentingnya penguasaan energi dan situasional awareness dalam pertempuran udara modern. Baik dalam fase BVR yang mengandalkan sensor dan siluman, maupun dogfight yang membutuhkan keberanian dan keterampilan terbang dasar. Latihan Elang Nusantara membuktikan bahwa TNI AU terus meningkatkan profesionalisme pilotnya melalui skenario realistis dan evaluasi ketat.