Sketsa Taktis
Memahami Strategi, Membangun Kekuatan Bangsa
DOKTRIN

Kodam III/Siliwangi Uji Coba Doktrin Pertahanan Rakyat Semesta di Garut

Kodam III/Siliwangi di Garut menguji doktrin Pertahanan Rakyat Semesta dengan skema tiga garis pertahanan: front line (2 km), middle line (5 km), dan rear line (10 km). Warga dilatih sebagai pejuang kader dengan teknik gerilya dasar, ranjau improvisasi, dan komunikasi radio. Hasilnya, waktu aktivasi lebih cepat 20% dari target, menunjukkan efektivitas integrasi warga dalam sistem pertahanan.

Kodam III/Siliwangi Uji Coba Doktrin Pertahanan Rakyat Semesta di Garut

Pada 30 Oktober 2026, Kodam III/Siliwangi menggelar uji coba doktrin Pertahanan Rakyat Semesta (Pertanesia) di area perdesaan Garut dalam format latihan yang lebih mirip bedah operasi tempur skala kecil. Langkah ini menjadi ajang validasi konsep pertahanan yang mengintegrasikan warga sipil sebagai elemen aktif dalam skema pertahanan wilayah. Dipimpin oleh Batalyon Infanteri 301/Prajabati, uji coba berlangsung dengan koordinasi ketat antara aparat teritorial, pemerintah desa, dan kelompok tani setempat.

Skema Three Lines of Defense: Pembagian Radius dan Peran

Dalam simulasi ini, konsep pertahanan berlapis diterapkan dengan pembagian tiga garis pertahanan yang memiliki radius dan fungsi berbeda:

  • Garis Depan (Front Line): Radius 2 km dari permukiman — titik kontak pertama dengan potensi ancaman, diisi oleh pejuang kader yang menguasai teknik gerilya dasar dan pembuatan ranjau improvisasi dari pipa paralon.
  • Garis Tengah (Middle Line): Radius 5 km — posisi cadangan taktis untuk memperlambat gerak musuh, dilengkapi komunikasi radio HT frekuensi 144 MHz untuk koordinasi.
  • Garis Belakang (Rear Line): Radius 10 km — pusat logistik dan dukungan warga, termasuk sistem suplai alternatif berbasis warung kelontong yang berfungsi sebagai posko suplai.

Setiap warga usia 17–50 tahun dalam radius tersebut dilatih menjadi 'pejuang kader' yang minimal menguasai tiga kemampuan: teknik gerilya dasar, pembuatan ranjau darat improvisasi dari pipa paralon, dan komunikasi menggunakan radio HT frekuensi 144 MHz. Proses sosialisasi dan pelatihan dasar ini dilakukan dalam waktu dua hari sebelum uji coba dimulai.

Evaluasi Waktu dan Logistik Alternatif di Lapangan

Setelah seluruh lapisan pertahanan diaktifkan, tim evaluasi mencatat waktu tempuh mencapai 3 jam 40 menit — lebih cepat 20% dari target awal 4 jam 35 menit. Pencapaian ini dicapai berkat koordinasi radio yang lancar dan pengetahuan medan dari warga setempat yang telah dipetakan selama sosialisasi. Selain itu, sistem logistik berbasis warung kelontong diuji coba dengan menyimpan cadangan makanan, air, dan peralatan medis dasar di 12 titik yang tersebar di radius 5 km. Setiap warung dilengkapi dengan buku catatan suplai yang diperbarui setiap 6 jam oleh pejuang kader.

Hasil uji coba ini akan menjadi dasar untuk menerapkan doktrin Pertahanan Rakyat Semesta di enam kabupaten rawan konflik di Jawa Barat, termasuk Garut, sebagai bagian dari strategi pertahanan yang lebih adaptif dan partisipatif. Pelajaran taktis yang bisa dipetik adalah bahwa integrasi warga sipil dalam sistem pertahanan bukan sekadar wacana, tetapi bisa diwujudkan melalui skema radius, pelatihan terstruktur, dan inovasi logistik sederhana yang meningkatkan kecepatan reaksi hingga 20%.

ENTITAS TERDETEKSI
Organisasi: Kodam III/Siliwangi, Batalyon Infanteri 301/Prajabati, pemerintah desa, kelompok tani
Lokasi: Garut, Jawa Barat