Sketsa Taktis
Memahami Strategi, Membangun Kekuatan Bangsa
PERALATAN

KRI Bung Tomo Dilengkapi Radar Baru: Meningkatkan Deteksi Ancaman Udara

Pemasangan radar SMART-S MK2 pada KRI Bung Tomo meningkatkan kemampuan deteksi ancaman udara hingga 250 km dengan fitur track-while-scan. Integrasi tiga tahap dan pelatihan intensif memungkinkan kru mengidentifikasi, melacak, dan mengunci target secara efisien. Kapal perang ini kini siap memperkuat pertahanan udara maritim Indonesia.

KRI Bung Tomo Dilengkapi Radar Baru: Meningkatkan Deteksi Ancaman Udara

KRI Bung Tomo (KRI-357) baru saja menyelesaikan pemasangan radar 3D tipe SMART-S MK2 di Surabaya. Radar ini tidak sekadar pengganti, melainkan peningkatan drastis dalam kemampuan deteksi ancaman udara kapal perang kelas Sigma ini. Dengan jarak deteksi mencapai 250 kilometer dan fitur track-while-scan, kapal mampu melacak puluhan sasaran secara simultan sambil terus memindai area baru. Prosedur pemasangan dan integrasi dilakukan dalam tiga tahap yang ketat, memastikan radar terhubung sempurna dengan combat management system (CMS) kapal.

Tahapan Integrasi Radar SMART-S MK2: Dari Pemasangan hingga Kalibrasi

Proses integrasi radar baru ini dirancang secara sistematis untuk meminimalkan kesalahan teknis. Berikut tiga tahapan utama yang dilalui:

  • Pemasangan antena di tiang utama: Antena array radar dipasang pada posisi tertinggi kapal untuk memaksimalkan jangkauan dan mengurangi hambatan struktural. Pemasangan dilakukan oleh tim teknis berpengalaman dari TNI AL dan vendor.
  • Integrasi dengan Combat Management System: Sinyal radar dihubungkan ke CMS kapal, memungkinkan data target langsung diolah dan ditampilkan di combat information center (CIC). Langkah ini mencakup sinkronisasi protokol data dan pengaturan prioritas target.
  • Uji deteksi di perairan Selat Madura: Kapal berlayar untuk menjalani uji coba menggunakan pesawat target tanpa awak (drone) yang diterbangkan pada ketinggian rendah, sedang, dan tinggi. Setiap hasil deteksi diverifikasi untuk memastikan akurasi dan konsistensi.

Setelah integrasi fisik, kru menjalani prosedur kalibrasi selama beberapa hari. Kalibrasi ini mencakup penyesuaian azimuth, elevasi, dan pengaturan sensitivitas penerima. Data kalibrasi kemudian digunakan untuk mengoreksi bias deteksi, sehingga informasi jarak, ketinggian, dan kecepatan target menjadi presisi.

Prosedur Operasional: Identifikasi Bogey hingga Penguncian Target

Dengan radar baru, prosedur operasional standar di KRI Bung Tomo mengalami perubahan signifikan. Seluruh perwira dan bintara bagian radar menerima pelatihan intensif yang mencakup:

  • Identifikasi bogey (target tak dikenal): Operator dilatih membedakan antara pesawat sipil, militer, atau ancaman potensial berdasarkan pola pergerakan dan respons transponder.
  • Pelacakan multi-target: Memanfaatkan fitur track-while-scan, operator dapat memonitor hingga puluhan target secara bersamaan tanpa kehilangan kontak awal. Ini memungkinkan prioritas target berbahaya ditandai lebih awal.
  • Penguncian target sebelum peluncuran rudal: Tahap akhir prosedur adalah penguncian radar (lock-on) pada target yang telah diverifikasi sebagai ancaman. Data penguncian dikirim langsung ke sistem senjata kapal, memungkinkan intersepsi cepat.

Prosedur ini diajarkan dalam simulasi combat information center sebelum diterapkan di lapangan. Hasil uji coba menunjukkan bahwa waktu reaksi dari deteksi hingga penguncian berkurang hingga 30% dibandingkan radar sebelumnya.

Dari perspektif taktis, peningkatan KRI Bung Tomo ini memberikan pelajaran berharga: modernisasi radar bukan sekadar upgrade perangkat keras, tetapi juga transformasi prosedur operasi dan pelatihan kru. Dengan jangkauan deteksi 250 km dan kemampuan track-while-scan, kapal ini kini mampu menghadirkan pertahanan-udara area yang lebih luas, melindungi perairan strategis Indonesia. TNI AL membuktikan bahwa kesiapan personel dan integrasi sistem adalah kunci efektivitas alutsista modern.

ENTITAS TERDETEKSI
Organisasi: TNI AL
Lokasi: Surabaya, Selat Madura, Indonesia