Pada 11 September 2026, TNI AL bersama Korps Marinir menggelar simulasi operasi amfibi di Pantai Cilacap, Jawa Tengah, yang dirancang dalam tiga gelombang terstruktur. Setiap gelombang memiliki tugas spesifik dan diatur interval 10 menit untuk memastikan konsolidasi pasukan sebelum bergerak ke dalam. Simulasi ini tidak hanya menguji keterampilan tempur, tetapi juga koordinasi antara unsur laut, darat, dan udara dalam skenario pendaratan sesungguhnya.
Tahapan Pendaratan: Tiga Gelombang Terstruktur
Gelombang pertama dimulai dengan pendaratan pasukan pengintai (reconnaissance) menggunakan perahu karet LCRS (Lightweight Combat Rubber Raiding Craft) yang melaju dengan kecepatan 20 knot. Tugas utama mereka adalah mengamankan titik awal pendaratan dan mengidentifikasi hambatan di garis pantai. Setelah interval 10 menit, gelombang kedua diluncurkan: kendaraan amfibi lapis baja LVTP-7 (Landing Vehicle Tracked Personnel-7) mendaratkan 25 personel marinir bersenjata lengkap. Kendaraan ini memberikan perlindungan tembakan saat pasukan turun dan segera membentuk formasi pertahanan. Gelombang ketiga adalah dukungan logistik melalui helikopter EC725 yang mendaratkan amunisi dan perlengkapan medis, memastikan pasukan di darat tidak kehabisan suplai.
Urutan tiga gelombang ini mengikuti prinsip phased insertion di mana setiap elemen memperkuat elemen sebelumnya. Pasukan pengintai berfungsi sebagai mata dan telinga, kendaraan amfibi sebagai kekuatan pemukul, dan helikopter sebagai tali pusat logistik. Dengan interval 10 menit, setiap gelombang memiliki waktu untuk melakukan konsolidasi posisi sebelum gelombang berikutnya tiba, mencegah tumpang tindih dan kebingungan di zona pendaratan.
Prosedur Pengamanan dan Koordinasi Taktis
Setelah mendarat, prosedur yang dilatih mencakup tiga langkah kunci: penetapan beachhead sepanjang 200 meter, pembersihan jalur sand dune menggunakan granat asap, serta pengamanan perimeter oleh regu senapan mesin. Granat asap digunakan untuk menyembunyikan pergerakan pasukan dari pandangan musuh sekaligus menandai area yang sudah aman. Regu senapan mesin kemudian ditempatkan di titik-titik strategis untuk mencegah serangan balik dari arah darat. Koordinasi antara KRI yang memberikan tembakan dukungan dan pasukan yang mendarat dijaga dengan radio komunikasi HF (High Frequency) yang handal di segala kondisi cuaca.
Komandan simulasi menegaskan bahwa sinkronisasi waktu dan komunikasi adalah kunci keberhasilan operasi amfibi. Setiap unit harus melaporkan statusnya secara real-time agar tembakan dukungan tidak mengenai pasukan sendiri. Prosedur ini mengingatkan pada doktrin naval gunfire support yang membutuhkan koordinasi ketat antara KRI dan unsur pendarat.
Dari simulasi ini, pelajaran taktis yang dapat dipetik adalah pentingnya interval waktu dalam operasi amfibi — setiap tahap harus memiliki jeda yang cukup untuk konsolidasi, namun tidak terlalu lama hingga mengurangi momentum. Selain itu, penggunaan granat asap dan regu senapan mesin menunjukkan bahwa penguasaan medan pantai (beach terrain) membutuhkan kombinasi tipuan asap dan tembakan penekan agar pasukan dapat bergerak maju tanpa hambatan berarti.