TNI AL kembali menggelar simulasi ASW (Anti-Submarine Warfare) yang menuntut ketelitian tinggi di Perairan Sabang, Selat Malaka. Latihan ini dirancang untuk menguji prosedur penanggulangan ancaman bawah air dengan menggunakan target tiruan torpedo pada kedalaman 80 meter. Fokus utama simulasi adalah melatih kemampuan deteksi, identifikasi, hingga penghancuran kapal selam musuh yang mengancam Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI). Seluruh tahapan dieksekusi secara instruksional — mulai dari penyapuan sonar hingga eksekusi serangan — untuk memastikan setiap kru memahami peran dan waktu reaksi yang presisi.
Tahap Awal: Deteksi dan Identifikasi Target dengan Sonar Pasif
Fase pertama dimulai dengan KRI Bung Tomo yang menempatkan sonar pasif di titik-titik strategis. Setelah kontak akustik terdeteksi, kru langsung menerapkan skema 'hover and intercept' — kapal mengurangi kecepatan drastis untuk meminimalkan kebisingan sendiri sambil mempertahankan kontak sonar. Langkah ini krusial agar target tidak menyadari kehadiran kapal. Berikut rincian prosedur pada tahap ini:
- Sonar pasif diaktifkan pada mode deteksi jarak jauh untuk menangkap frekuensi rendah khas propulsi kapal selam.
- Setelah kontak positif, kapal beralih ke kecepatan jelajah rendah (kurang dari 5 knot) untuk mengurangi kebisingan hidrodinamiis.
- Tim ASW melepas decoy akustik ke arah berlawanan untuk memecah konsentarsi target dan mengelabui sonar musuh.
- Helikopter anti-kapal selam dikerahakan ke area lain untuk mengerahkan sonar aktif, menciptakan tekanan multi-arah yang membuat target kesulitan manuver.
Tahap Akhir: Penghancuran dengan Pola Groove Atack
Setelah posisi dan kedalaman target dipastikan melalui triangulasi sonar pasif dan aktif, kapal memasuki fase penyerangan. Mortir anti-kapal selam dilepasakan dengan pola sebaran 'groove attack' — pola tembakan beruntun yang dirancang untuk menciptakan jaring ledakan di sekitar target. Setiap tembakan diatur berdasarkan jarak dan kedalaman yang telah dihitung sebelumnya. Prosedur ini memerlukan koordinasi ketat antara operator sonar, navigasi, dan kru senjata. Seluruh langkah dicatat secara rinci untuk dievaluasi di war room pasca-latihan, termasuk waktu reaksi, akurasi pelepasan decoy, dan efektivitas pola serangan.
Dari sisi taktis, latihan ini mengajarkan pentingnya disiplin dalam menjaga silent running dan penggunaan decoy secara timing. Pelajaran utama yang bisa dipetik adalah bahwa ASW bukan sekadar soal peralatan canggih, melainkan tentang prosedur berlapis yang harus dijalankan secara presisi. TNI AL membuktikan bahwa simulasi seperti ini menjadi fondasi kesiapan operasional nyata dalam menjaga kedaulatan laut Indonesia dari ancaman bawah air. Disiplin dalam setiap langkah — dari deteksi hingga penghancuran — adalah kunci keberhasilan operasi anti-kapal selam di perairan strategis seperti Selat Malaka.